Minggu, 19 Februari 2017

[Law of The Jungle, Gomawo] - Rahmi Afzhi Wefielananda



[Law of  The Jungle Kota Manado, Gomawo]

Rahmi Afzhi W.



Kyaaa, dapat tontonan baru lagi nih, ‘Law of The Jungle’. Walaupun sebenarnya alasan pertama nonton acara ini cuma karena bintang tamunya Sungyeol yang lokasi shootingnya berada di Indonesia, tapi akhirnya... it could be change my mind, guys. Buat saya sendiri yang lebih sering nontonin acara mengenai laut, pantai, dan pedesaan di Indonesia, acara ‘hutan-hutanan’ begini jadi hal baru. Masya Allah, bener banget nih ayat Al-Qur’an yang mengatakan, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”



Nggak salah kalau orang bilang hutan Indonesia itu salah satu paru-paru dunia. Itu masih hutan di Manado, belum lagi hutan di provinsi dan kota lain. Asli indah banget! Beribu pohon yang menghijau, sungai yang airnya deras, gua yang menjadi sarangnya kelelawar, dan fauna yang dapat hidup dengan bebasnya. Itu baru nonton, belum lagi kalau lihat aslinya bagaimana. Kebayang nggak sih gimana jadinya pas hutan itu ditebang tanpa aturan, bahkan sampai dibakar tanpa memikirkan bagaimana dampak ke depannya? Sama seperti kejadian setahun silam. Kalau yang tinggal di Sumatera khususnya sekitar Riau tentu tahu gimana rasanya bernapas bukan hanya dengan menghirup O2 saja, melainkan berbagai zat kimia yang bahkan menilmbulkan bau. Sesak, Bung!



Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S. Arrahman : 16)

Indonesia itu kaya bukan main. Hutannya aja mempesona gitu, bikin ngiler para ‘serakahwan-serakahwati’ yang dimabuk harta tapi lupa kenyataan (beuh, maafkan penggunaan bahasa yang tak terkontrol kali ini). Cari keuntungan boleh, cari duit boleh, tidak ada yang melarang. Orang Indonesia ini orang yang beragama dan terpelajar. Menjaga perasaan aja bisa, masa menjaga alam nggak bisa? (becanda ding). Seorang pebisnis, seorang pencari keuntungan, sepatutnya sudah pernah mendapatkan ilmu tentang Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Hal-hal dasar mengenai pelestarian alam itu udah pada paham dong.



Hei! Ujian sekolah dan ujian kuliah yang sebenarnya itu ada di saat seperti ini. Bukan hanya ujian pas ulangan semester yang jawabannya pasti bakal dipikirin jawaban yang paling benar, paling cakep, dan yang paling membahagiakan doang. Itu masih teori, Bung! Masih tertoreh di kertas yang tujuannya hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus. Harusnya isi tulisan itu yang diaplikasikan ketika kamu dihadapkan dengan kenyataan (baca ini tolong jangan baper, jeball).



Trus gimana dong, jumlah penduduk semakin meningkat, lahan yang dibutuhkan untuk bertanam demi memenuhi kebutuhan pokok serta tempat tinggal semakin luas, mau cari tanah ke mana lagi? Bikin perabot rumah tangga, kayunya ambil di mana lagi? <Bentar... mikir dulu mau jawab apa.>



Nah, ini dia. Kabar burung yang saya dengar, jumlah penduduk yang berpendidikan juga meningkat, lho. Asal tahu saja, tamat dari SMA, SMK, ataupun perguruan tinggi, tak melulu harus kerja di institusi ini, institusi itu dulu baru bisa dibilang sukses. Coba deh bikin projek sendiri, bisa juga projek ‘keroyokan’. Pikirkan masalah keuntungan sendiri dan keuntungan bersama. Pikirkan bagaimana caranya menghasilkan uang tapi tidak dengan merusak alam. Lulusan sarjana di negara ini bermacam ragam. Bukan cuma lulusan ekonomi yang memikirkan cara mendapatkan keuntungan yang maksimal dengan pengorbanan seminimum mungkin, tapi negara ini juga punya lulusan hukum, pertanian, perkebunan, teknik, dan lain-lain yang kalau diajak kerjasama bakal klop dan menemukan solusi yang tepat, Insya Allah.



Mungkin terkesan receh, tapi baru itu solusi yang terpikir di tengah malam seperti ini. Intinya cuma mau bilang, Indonesia itu kaya. Kita kaya, jangan mau jadi orang kaya bodoh. Sebuah tontonan, harus bisa disaring baik buruknya. Setidaknya ambil satu hikmah yang bisa bikin kamu makin dekat dengan sang Pencipta dan terus maju ke depan. <Sekilas jadi keinget pas waktu nonton drama Goblin, hikmahnya itu mengingatkan si penonton mengenai kematian. Setiap yang bernyawa itu pasti akan mati. Dan yang bakal lo hadapi setelah itu bukanlah seindah yang di drama. Perjalanan setelah itu masih panjang. Jangan lupa untuk mempersiapkannya ;)>



At last, Sungyeol cocok jadi pemain tetap di acara ini kayaknya. Kepala Suku, Bapak Byung Man, bawalah dia di setiap perburuanmu! LOL. Sampai jumpa di ulasan film / drama / variety show yang lainnya :)

***

Kutipan ayat :

Q.S. Arrahman : 6-9

Dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya) [6]. Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan [7]. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu [8]. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu [9].

***








Selasa, 07 Februari 2017

Datanglah Kembali, Delapan Tahun yang Lalu - Rahmi Afzhi Wefielananda -


Datanglah Kembali, Delapan Tahun yang Lalu
- Rahmi Afzhi Wefielananda -

Halo.... Sudah lama bukan, kita tidak berjumpa. Pertemuan terakhir kita kuingat sekitar delapan tahun lalu. Ketika itu kita masih punya banyak waktu untuk bersama, setiap hari. Kuharap engkau tak melupakanku, serta seluruh pembicaraan yang pernah kita bahas di masa lampau.
            “Halo Lui!” ujarmu. Aku senang kau masih mengingat namaku. Namun kuyakin, mustahil bagi kita untuk melupakan semudah itu saja, bukan? Aku sahabatmu, dan engkau adalah sahabatku. Namamu, Irha. Anak perempuan yang sudah kukenal semenjak empat belas tahun lalu, tepatnya saat kita sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Hari ini adalah pertemuan pertamaku denganmu semenjak kita tamat dari SMA. Waktu itu kita sama-sama memiliki mimpi yang tinggi, engkau ingin menjadi pengusaha, dan aku ingin menjadi dokter.
            “Biaya kuliah kedokteran itu mahal, Lui. Aku juga harus menggunakan logika untuk memikirkan cita-citaku, sesuai kemampuanku.” Aku kagum melihatmu saat itu. Sangat bijaksana. Pemikiranmu jauh lebih dewasa dariku. Kupikir aku bisa beranjak dewasa setelah memahami setiap perkataanmu. Sampai kini, aku masih berterimakasih karena hal tersebut.
            Hari ini, engkau masih seperti delapan tahun lalu. Bersahaja dan tetap menjadi sosok sahabat sekaligus kakak bagiku. Di toko kue ini, aku kembali mengingat perjalanan kita dahulu. Lebih jelasnya, perjalanan yang selalu kita lalui dari sekolah menuju rumah. “Ck....” Aku tersenyum jika mengingatnya. Kita selalu berjalan bersama sepulang dari sekolah, namun tidak untuk berangkat ke sekolah. Itu karena kesibukanmu, mengantarkan kue-kue buatan ibumu sebelum menuju ke sekolah. Lagi-lagi, hal itu memperkuat dugaanku tentangmu, bahwa engkau adalah sosok yang patut untuk kutiru.
            “Lui!” Sekali lagi panggilan itu ditujukan padaku, “kamu benar Lui, kan?” Aku mengangguk menjawab pertanyaanmu.
            “Lihatlah, bagaimana kejamnya dirimu. Aku sudah memanggilmu ratusan kali semenjak aku memasuki toko ini, itupun hanya kau jawab dengan sebuah anggukan? Apakah aku sebaiknya pergi saja?” Aku tau kau sedang bercanda. Itulah gayamu, hiperbola.
            “Lalu aku harus menjawab apa? Iya, akulah Lui. Lui teman lamamu, Irha. Iya, aku Lui, teman yang telah engkau tinggalkan semenjak delapan tahun lalu. Aku Lui!” teriakku dengan semangat.
            “Wah, engkau sudah banyak berubah, ya. Aku kira kau masih pendiam seperti dulu. Tak kusangka ternyata kamu juga bisa menjadi seseorang yang bawel. Akhirnya, aku tidak perlu nyinyir sendiri jika berbicara denganmu.” Gelak tawamu menggema seisi toko.
            “Ini semua juga karenamu yang cerewet telah membawa pengaruh padaku,” ujarku kemudian ikut tertawa. Hari ini aku senang, bisa bertemu denganmu dan menghidupkan suasana percakapan kita. Tidak seperti delapan tahun lalu, saat di mana hanya dirimu yang sibuk mengoceh hingga berbusa dan hanya kutanggapi dengan senyuman atau sekadar jawaban singkat. Meskipun begitu, aku adalah seorang pendengar dan pengingat yang baik. Aku mencerna semua yang kau bicarakan, jadi engkau tak usah khawatir soal hal itu.
            Sekilas kembali kuingat memori kita dahulu. Pemikiran bijakmu telah membawaku pada berbagai percakapan yang sedikit demi sedikit membuka pemikiranku.
            “Hidup dengan memiliki banyak uang tentu menyenangkan, iya kan Lui?” Aku tak tahu harus menjawab apa. Hanya kemudian mengangguk pelan.
            “Tapi kenapa mereka tidak suka berbagi kebahagiaan pada orang lain? Kebahagiaan yang kumaksud tidaklah harus berbayar. Menolong dengan tulus merupakan kebahagiaan, kan? Meskipun jika mereka ingin berbagi kebahagiaan dengan uang, akupun tak kan mengelak, itu juga kebahagiaan untukku.” Setelah itu, tawamu pecah. Aku berpikir saat itu engkau tengah meminta uang kepadaku secara ironi. Namun aku salah, ternyata ada kelanjutan dari perkataanmu.
            “Apa sesama orang kaya saling berbicara? Hmm... maksudku apakah mereka akan membahas hal lain selain bisnis, kekayaan, dan jabatan anggota keluarganya jika mereka berjumpa? Huft, aku telah menjadi korban drama bukan? Hahahaha, yang kulihat di televisi selalu begitu. Jika ada dua atau lebih orang-orang kaya yang bertemu, mereka hanya membahas mengenai bisnis, saham, dan kekayaan lain.” Perkataanmu sudah seperti semacam teori. Engkau menoleh ke arahku menunggu sebuah jawaban.
            “Tidak juga,” jawabku lirih. Aku masih belum memahami apa yang engkau maksud. Inilah pertanyaan yang selalu terngiang di kepalaku. Tidakkah dia tahu bagaimana kondisi keluargaku, padahal kita sudah saling mengenal sejak SMP? Ataukah dia ingin menyindirku secara halus? Tidak, kurasa bukan itu maksudmu. Engkau bukanlah tipe orang yang akan menyakiti hati orang lain walaupun hobimu adalah mengoceh sepanjang perjalanan kita dari sekolah menuju rumah.
            “Sampai bertemu besok, Lui!” Engkau melambaikan tangan padaku. Kita selalu berpisah di persimpangan ini. Aku akan berbelok ke kiri dan engkau akan terus berjalan lurus. Persimpangan ini selalu menjadi titik perpisahan kita, enam tahun terakhir. Saat itu kita masih kelas tiga di bangku SMA, enam tahun semenjak pertemuan pertama di kelas satu SMP.
            Iringan melodi yang lembut mengalun menjadi musik pengantar di toko ini. Kue serabi yang disajikan menjadi pemanis pertemuan kita.
            “Kamu sudah sukses sekarang,” ujarmu memecah keheningan.
            “Darimana kamu tahu? Aku pikir kamu yang lebih sukses.” Aku tersenyum.
            “Hahaha, kamu sudah hebat membual sekarang ya.” Gaya bicaramu masih khas. Seakan-akan keras, namun tidak menyakiti perasaanku, karena aku sudah terbiasa dengan gaya candamu.
            “Gaya pakaianmu yang mengatakan padaku.” Kuakui gaya bahasaku yang penuh majas ini kupelajari darimu. Metafora, begitulah istilah yang pernah kausebutkan dulu.
            “Engkau mempelajarinya dengan baik, Sobat.” Engkau mengacungkan jempol kepadaku. Aku bahagia, bisa akrab kembali denganmu seperti dulu lagi.
            Pernah dulu kita hanya membahas mengenai gaya bahasa sepanjang perjalanan pulang sekolah. “Kukira hidup ini penuh paradog. Karena itulah manusia jarang bersukur,” ungkapmu. Aku mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.
            “Iya, sering kudengar istilah duduk sendiri terasa sempit, duduk bersama terasa lapang. Kukira itu sama saja artinya dengan orang yang merasa sepi dan sendiri tinggal di rumah yang besar, namun berbeda dengan orang yang tinggal di rumah sempit yang akan merasakan keramaian dan kenyamanan. Sepertinya istilah itulah yang membuat orang-orang kaya tidak menyukuri hal yang mereka miliki. Asal engkau tahu Lui, aku membencinya.” Pernyataanmu yang panjang lebar hanya mampu kubalas dengan manggut-manggut tanda mengerti.
            “Apakah orang-orang kaya hanya membicarakan bisnis ketika mereka berjumpa? Apa tidak ada hal yang lain yang perlu mereka bicarakan?” Pertanyaan berulang yang terus engkau ajukan padaku. Aku masih belum mengerti apakah itu sebuah sindiran atau hanya sekadar rasa penasaranmu.
            “Kurasa tidak juga,” jawabku singkat.
            “Entah kenapa, aku membenci orang-orang kaya. Tapi sepertinya karena mereka suka meremehkan hal-hal kecil,” katamu. Tepat saat itu, kita telah sampai di persimpangan. Engkau melanjutkan perjalananmu setelah melambai padaku. Aku melengah ke arah kiri, menatap panjang jalan menuju rumahku. Irha, apakah engkau tidak tahu aku tinggal di sekitar sini? Rumah bercat biru tua, berjarak lima meter ke arah kiri dari persimpangan ini. Bukan maksudku untuk pamer, tapi aku yakin semua orang juga tahu jika komplek sebelah kiri dari persimpangan ini adalah milik orang-orang berada. Apakah engkau tahu keadaan keluargaku? Engkau selalu membahas mengenai kebencianmu pada orang kaya. Apakah engkau tahu, bahwa setidaknya orang kaya yang kau bicarakan adalah sahabatmu sendiri?
            Sampai saat ini aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan masa laluku. Sejak dahulu aku tidak menemukan kebencian darimu untukku. Karena itulah aku menganggap bahwa engaku tidak tahu mengenai kedaan keluargaku. Kita tidak pernah saling berkunjung ke rumah satu sama lain. Engkau terlalu sibuk membantu ibumu untuk berjualan dan mengantar kue-kue.
            “Hmm.... Jadi, apa kamu sudah menjadi seorang dokter sekarang?” Engkau bertanya, menyadarkanku dari lamunan.
            “Tidak, aku menjadi seorang guru. Aku tidak sepintarmu untuk bisa mencapai sekolah kedokteran. Setidaknya kuharap aku bisa membagikan ilmu pada calon-calon dokter masa depan, hehe. Seharusnya kamu yang bercita-cita menjadi dokter, bukan aku.”
            “Sudah kukatakan, sekolah kedokteran itu mahal,” jawabmu tersenyum.
            “Lalu, apa dirimu telah menjadi pengusaha sukses? Jika boleh kutebak, cita-citamu benar-benar tercapai.” Aku bergaya seperti seorang yang ahli, tentu saja itu sebuah candaan.
            Engkau pun mengangguk. Iya, benar. Engkau telah berhasil menjadi seorang pengusaha sukses. Tampil di berbagai acara televisi. Aku sering melihatmu. Tidak diragukan lagi, engkau benar-benar sukses.
            Pembicaraan kita pun berlanjut. Namun, semakin lama aku merasa seperti sedang merasakan dejavu. Ada yang aneh, ada hal yang mengganjal. Semua itu terus kurasakan hingga kita berjalan pulang bersama. Masih di jalan yang sama, kita berpisah di persimpangan. Namun kini, ada sedikit perbedaan. Aku masih berbelok ke arah kiri, berbeda denganmu. Engkau kini sudah berbelok ke arah kanan. Semua orang juga tahu, bahwa komplek sebelah kanan persimpangan ini adalah milik pengusaha-pengusaha kaya. Bangunannya jauh lebih megah dan mewah dibanding komplek persimpangan sebelah kiri.
            “Sampai jumpa, Lui!” Aku memandang punggungmu yang mulai menjauh, berbelok ke arah kanan. Aku masih berdiri di sini, di persimpangan ini. Kuingat kembali pertanyaanmu di masa lalu.
            “Apakah orang kaya akan membahas hal lain selain bisnis, kekayaan, dan jabatan anggota keluarganya jika mereka berjumpa?”
            “Entah kenapa, aku membenci orang-orang kaya. Tapi sepertinya karena mereka suka meremehkan hal-hal kecil.”
            Jika kuulang rekaman pembicaraan kita di toko roti tadi hingga sepanjang perjalanan, tak luput dari masalah karir, gaji, saham, dan masalah keuntungan finansial lainnya. Tak ada lagi pembahasan kita seperti di masa lalu. Membahas mengenai bahasa, istilah, atau hal-hal lain yang lebih menghangatkan suasana. Aku tahu, dunia terus berputar. Akan ada perubahan, walaupun jiwa bijaksanamu masih kudapatkan. Namun, harus engkau tahu, dua hari yang lalu aku membaca berita mengenai kasus penipuan yang dilakukan oleh seorang pengusaha yang tinggal di sebelah kanan persimpangan ini. Apakah ini maksud pembicaraanmu delapan tahun lalu?
            Bukan untuk menyindirku karena aku lebih berada darimu. Namun sepertinya engkau telah membaca situasi apabila suatu saat engkau berada di posisi yang paling engkau benci itu. Mungkinkah sejak delapan tahun lalu, engkau memintaku untuk mengingatkanmu tentang hal ini suatu hari nanti? Bahwa orang kaya tidak hanya membicarakan mengenai harta, namun juga membicarakan hal yang sepatutnya kita bicarakan sebagai sesama manusia. Sekaligus tidak meremehkan hal-hal kecil yang sering kita lupa. Orang kaya juga membicarakan mengenai masalah kebaikan, masalah sesama, masalah umat, masalah kebahagiaan, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga orang lain. Itulah yang membuat pembicaraan kita lebih nyaman. Tenanglah Irha, aku sudah mengerti maksudmu delapan tahun lalu. Aku akan membantumu untuk mengembalikan pembicaraan kita delapan tahun lalu.

Petikan ayat
Q.S. Al-Asr 1-3
Demi masa (1). Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi (2). Kecuali orang-orang yang senantiasa beriman dan beramal saleh dan saling menasihati di dalam kebenaran dan kesabaran (3).

***

Sumber gambar: pixabay.com



Senin, 09 Mei 2016

Selamat Datang! Selamat Datang di "Dunia (Kampus) Perjuangan"!

Kemarin lusa baru saja terjadi euforia. Semprotan cat pilox, bau menusuk dari tinta spidol menemani kemeriahan perayaan sebuah “Kelulusan”. Berkonvoi bersama di jalanan, selayaknya mengumumkan kepada umat bahwa, “Lihatlah! Saya sudah lulus.”
Bagi sebagian orang, mungkinlah itu bukan suatu masalah. Apa salahnya bergembira untuk sebuah kemenangan? Sebagian lain, merasa miris dengan pemandangan yang ada. Mengapa harus bercoret-coret ria? Banyak hal bermanfaat yang dapat dilakukan untuk sebuah kelulusan. Sudahkah dirimu bersujud memunajatkan syukur pada Yang Maha Kuasa? Atau sudahkah engkau salami tangan kedua orangtuamu yang telah menengadahkan tangannya di setiap sembahnya pada Yang Maha Kuasa untuk mendoakanmu?
Ada dua jalan berpikir yang bermula di titik ini. Semua orang punya pilihan untuk berada di sisi mana. Kita berpikir, menilai, dan mengetahui mana yang terbaik.
Namun... Jalan ke depan masih panjang, adik-adikku, saudara-saudariku. Kau baru saja membuka pagar kehidupan. Selamat datang di dunia perjuangan! Melangkahlah, berlarilah!
***
Kemarin, euforia kelulusan tiba-tiba menjadi fatamorgana. Ada yang kembali melanjutkan kebahagiaannya, namun tak sedikit juga yang bersedih hatinya.
Kembali ada 2 fenomena yang menyeruak.

“Ibu, Alhamdulillah aku lulus di universitas yang kuinginkan.”
“Ibu, aku belum lulus kali ini.”

“Ayah, aku diterima dijurusan itu.”
“Ayah, teman-temanku banyak yang diterima di sana. Tapi, aku belum Ayah.”

“Wah! Selamat ya atas keberhasilanmu!”
“Tetap semangat ya! Masih banyak jalan lain menuju universitas yang kamu dambakan!”

Dunia terus berputar. Kejadian demi kejadian turut bergulir. Berbagai fenomena pun mulai terkuak. Siapapun yang menang, bersyukurlah. Langkahmu telah dimulai, tapakilah jalanmu ke depan. Selamat datang! Selamat datang! Perjuanganmu masih panjang. Indonesia menanti perubahan dari engkau nantinya, para pemuda yang berjuang dan berusaha pada kebaikan dan kebenaran.
Siapapun yang merasa kalah, ingatlah, peperangan ini belum berakhir. Jika perjuangan mencapai perguruan tinggi dengan ‘pertempuran’ lewat input nilai secara elektronik belum mampu engkau menangkan, itu bukanlah akhir segalanya. Allah punya kuasa atas segala hal. Masih ada pertempuran lewat pensil dan kertas putih yang harus engkau perjuangkan. Bersedih, itu memang hal yang biasa. Tak ada manusia yang mampu menepis dari rasa nuraninya. Kecewa, lumrah adanya. Berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaan, di situlah letak tidak biasa dan bukan sebuah kelumrahan. Kenapa? Karena Allah lebih menyukai hamba-Nya yang kuat daripada hamba yang lemah. Selamat datang! Selamat datang! Inilah perjuangan wahai adik-adikku, saudara-saudariku. Ini baru permulaan. Langkah awal keluar dari gerbang.
Kedepannya, engkau akan menduduki bangku perkuliahan yang tak terduga kapan akan panas atau  dinginnya. Engkau harus berusaha, berdoa, ikhtiar, dan tawakal. Jangan bersedih! Jangan kecewa! Selamat datang! Selamat datang! Selamat datang di dunia penuh perjuangan!
Yang selalu kuingatkan, pesan-pesan perjuangan dari kedua orangtuaku:
“DUIT” Doa, Usaha, Ikhtiar, Tawakal.

Good luck adik-adikku, saudara-saudariku. Semoga berkah Allah selalu mengiringi jalanmu. Semangat selalu! Kami tunggu kehadiranmu di wilayah penuh perjuangan ini :)


Ai Warmen
10/5/2016, 8:54 WIB
Di atas tembikar berwarna hitam

Minggu, 11 Oktober 2015

Cerpen bertema Alam Liar @KampusFiksi

Damai Pulau Seberang
Rahmi Afzhi Wefielananda

Kakak, apakah ini yang dinamakan surga? Aku menyukainya, Kak. Lihatlah, Kak. Tiada lagi orang-orang yang menyakiti, menghina, dan mengucilkan kita. Kita bebas, Kak. Bebas. Kak....
***
            Aku ingat sekali malam itu, adalah malam ketiga perut kami berteriak kelaparan. Kakak sudah mendengkur – walaupun kutahu sebenarnya suara itu tidak keluar dari mulut, melainkan perutnya. Aku pun kemudian berbaring di sampingnya, berharap juga dapat terlelap. Aku baru merebahkan kepala, dan tiba-tiba saja, kardus yang menjadi ‘pintu’ rumah tercampak jauh. Sepertinya disepak oleh seseorang dari luar sana.
            “Hei! Enak saja kalian berdua tidur di sini! Ini tempat kami!” Dengan kasar, dia menarik tanganku, lalu mendorongku hingga terpelanting jauh. Aku tak sanggup berbuat apa-apa, badanku kecil ditambah lagi tak bertenaga karena sudah berhari-hari tak diisi.
            Ayolah Kak. Bangunlah. Sebelum mereka juga melakukannya padamu.
            Sebuah tinju melayang. Cukup keras, sehingga bisa membuat seseorang yang kasar tadi lebam. Kakakku memang pemberani. Setelah itu, balasan dari lawan juga tak dapat terelakkan. Saling pukul, goret-goret luka dan darah mulai bermunculan. Namun Kakak belum menyerah, hingga seseorang itu benar-benar tumbang dan tidak sanggup lagi melawan.
            “Kita hidup di alam yang tidak lagi damai, Dik. Makan memakan itu bukan lagi hal tabu. Jika kau ingin menang, beranilah untuk memakan atau kau akan dimakan.”
            Aku mengangguk. Berani, memakan, aku akan melakukannya, Kak. Tenang saja, semua petuahmu selalu kusimpan erat di memoriku.
            “Bicara masalah ‘makan’, kita sudah lama tidak makan bukan? Mari kita mencari makan malam, dengan cara yang tidak damai di alam yang juga tak damai ini.” Kakak mengerling ke arahku sambil tersenyum miring.
            Aku kembali mengangguk. Aku tahu, caranya yang tak damai itu, masih terasa lebih baik bagi penghuni alam ini.
Kakak, kita akan mengeruk tong sampah di belakang restoran, bukan? Mencari nasi yang masih berada dalam bungkusnya, walau sudah bergelas sisa.
***
            Kak, aku sudah berada di alam yang damai. Damai, tanpa kekerasan, tanpa kelaparan. Aku bisa memetik buah-buahan yang ada, tanpa dimarahi pemiliknya. Kak, kebebasan ini, aku tidak ingin ia berlalu.
***
            Ia menaikkan kembali sesuatu yang ia sebut masker itu. Padahal aku terkikik, barang yang kakak kenakan begitu berbeda dengan yang dipakai oleh orang lain. Walaupun tidak sekolah, aku juga masih bisa mendefinisikan perbedaan antar barang. Aku tidak mengecap pendidikan, tapi aku tidak awam. Masker itu lembut, terbuat dari kain, jika ingin bernapas tidak perlu membuka dan menutupnya seperti yang kakak lakukan. Sedangkan masker buatan kakak, terbuat dari kantong kresek terbuang yang ditemukan di jalanan. Penjinjingnya dikaitkan di kedua belah telinga. Ketika bernapas, kantong itu akan mengembang dan mengempis. Karena itu, jika ia sudah tak tahan lagi, kakak selalu membuka masker itu saat bernapas dan menutupnya kembali setelah itu. Agak lucu memang, melihat kakak repot sendiri saat menggunakannya.
            “Sudah kubilang kan Dik, alam ini tidak damai lagi. Dia sudah mengganas. Lihatlah, asap kabut ini adalah hasil kejahatan alam ganas. Ia mengusik alam yang damai. Masih saja hukum makan memakan terjadi. Yang kuat akan menghabisi yang lemah.” Kakak memandang jauh, diiringi dengan kembang-kempisnya kantong plastik di mulutnya.
            Aku mengangguk lagi. Kemudian tersenyum.
            Kakak, aku juga mau masker seperti yang kau pakai.
            “Nah, Dik. Makanya kau harus memakai masker ini juga. Kita harus melindungi diri dari kejahatan alam ini. Biarlah orang-orang tertawa melihat yang kita kenakan. Mereka tidak tahu, karena telah terpengaruh bersama keganasan alam ini.”
            Kakak, aku tahu yang engkau maksud. Jujur saja, perkataanmu sebentar ini adalah sebuah ironi, bukan? Yang artinya adalah ‘Setidaknya mereka mau memberi kita sebuah masker yang tak mampu kita beli’.
***
            Kakak, aku disayangi di sini. Benar katamu, alam ini begitu damai. Alam yang kutinggali kini. Benar-benar sempurna, Kak.
***
            Usulan kakak pagi itu begitu mengejutkan. Ia mengajakku pergi menyeberangi pulau. Hari itu, kakakku tampak sudah tidak tahan lagi. Sabarnya sudah habis. Ia ingin keluar dari zona yang selama ini ia tinggali.
            “Kita harus segera pergi, Dik. Ke alam yang damai. Di seberang sana, ada tempat yang damai. Aku yakin itu. Di sini sudah benar-benar tidak aman. Alam ganas telah berganti menjadi alam liar. Kita bisa menyeberang sekarang.” Kakak begitu bersemangat.
            Menyeberang? Kakak, jangan bercanda. Apa kita punya kapal? Oh tidak, apa kita punya uang untuk membeli kapal?
            “Tumben kau tidak mengangguk, Dik? Jangan ragu. Tuhan memberikan kita kemampuan. Kau bisa berenang, kan? Ayo kita berenang menyeberang ke pulau sana.”
            Aku ingin menolak saat itu, tapi aku juga tidak mau mematahkan semangatnya. Hanya dia satu-satunya yang kumiliki. Ibu-Ayah telah mendahului kami. Kuyakin dia tahu yang terbaik. Dia tak mungkin berbicara tanpa berpikir panjang. Sudah kubilang, kami memang tidak bersekolah, namun kami tidak awam.
            Aku mengangguk.
            “Bagus, ayo kita pergi sekarang. Percayalah. Aku tidak ingin melukaimu.”
***
            Esok harinya, kami telah bersiap untuk pergi. Berjalan ke tepi laut, bersiap menyeberangi samudera. Kakakku telah siap, aku juga siap. Hiu, paus, dan binatang buas lain bukanlah menjadi ‘penakut’ untuk kami.
            “Jangan takut hiu, paus, ataupun binatang laut lain. Dia sahabat kita. Alam kedamaian, di situlah tempatnya. Awal permulaan hidup kita yang tenang.” Itulah kata kakak semalam.
            Ombak pantai telah memanggil kami untuk segera memulai perjalanan. Kakak memegang tanganku erat.
            “Percayalah, aku selalu bersamamu.”
            Aku menggangguk. Aku yakin, Kak. Kau menyayangiku.
***

            Kak, kini aku telah sampai di pulau yang kau impikan. Pulau tiada berpenghuni. Dikelilingi hutan, dihuni bermacam binatang. Alam ini begitu damai, Kak. Aku berteman dengan penghuninya. Aku tak bisa bicara dengan manusia, mereka bilang aku bisu. Namun, aku bisa bercakap dengan mereka Kak, binatang penghuni hutan. Aku berenang sampai garis akhir. Maafkan aku, Kak, telah membuatmu membuat janji kepada hiu untuk melepaskanku. Kau rela menjadi santapannya, karena kau tahu dia sahabatmu di alam kedamaian. Terimakasih, Kak.  THE END.