Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Mei 2018

Review Reality Show : My Neighbor, Charles (KBS TV)


Selamat datang kembali di blog yang rada acakadut dan jarang update ini ^_^

Pada postingan kali ini, aku mau ngebahas mengenai salah satu reality show Korea yang judulnya "My Neighbor, Charles". Acara ini tu bukan yang menampilkan artis-artis, idol papan atas ataupun para entertainer yang biasa kamu lihat di acara-acara Korea. My Neighbor, Charles ini lebih fokus membahas mengenai kehidupan foreigner yang tinggal di Korea. 

Aku baru nonton beberapa episode, dimana orang asing yang jadi guest-nya itu adalah orang muslim. Mereka ada yang berasal dari Iran, Uzbekistan, dan juga Afghanistan. Kenapa mereka bisa datang ke Korea? Gimana kehidupan mereka di Korea? Apakah semua hal tentang kehidupan Korea pada kenyataannya sama dengan yang biasa kita lihat di layar kaca?

Sebelumnya, aku memang belum pernah ke Korea dan malah masih kurang banget pengetahuan mengenai negara-negara di dunia (Indonesia aja masih belum sempurna kenalnya, apalagi negara lain wey T_T). 

Salah satu alasan kepindahan mereka yang ingin aku bahas adalah ADANYA PEPERANGAN. Jadi 2 keluarga yang aku tonton itu, yang satu berasal dari Iran dan satu lagi dari Afghanistan, pindah ke Korea karena di negaranya terjadi perang. Istilahnya mereka mengungsi dan mencari keadaan hidup yang lebih tenang dari ancaman. 

Nah, apa setelah kepindahan mereka kehidupan jadi lebih baik? Menurutku, tidak semuanya. Karena pada awalnya, mereka adalah keluarga yang termasuk mampu, berkecukupan, atau malah kaya ya (?). Pokoknya begitu kira-kira. Tapi, ketika hijrah ke negara orang, mereka agak kesulitan dalam perekonomian dan keuangan, disebabkan perbedaan bahasa dan budaya. Karena di situ, kalau mau cari kerja harus bisa bahasa Korea. Trus kalau mau kayak bikin usaha sendiri, bahan baku di sana lumayan mahal.

Oke, singkatnya seperti itu. Intinya di sini yang ingin aku bahas sebenarnya adalah buat kita yang tinggal di Indonesia (apalagi aku ya, berasa mau ngomong ke diri sendiri, "Sadar sist negaramu juga indah, kamu aja yang mainnya kurang jauh. Negaramu nggak seburuk dan sengaco ang kamu kira.")

Pertama, kita lihat beberapa contoh negara Islam yang di sana terjadi perang, membuat beberapa penduduknya berpikir untuk pindah ke negara yang lebih aman. Kita juga tau, tempat baru, tentu akan memiliki perbedaan dari banyak sisi. Apalagi budaya dan agama. Saudara-saudara muslim kita, yang ditakdirkan Allah mereka hijrah ke Korea ini, juga nggak mudah tentunya untuk menerapkan kehidupan islam di sana. Ya seperti mau nyari makanan halal, style mereka yang berbeda dengan penduduk lokal (tau kan style Arab seperti apa?), trus menjalankan ibadah (apalagi buat anak-anak, mungkin mereka bisa aja berpikir, "Kok gua aja yang puasa, mereka nggak? Kenapa cuma gua yang salat 5x sehari, mereka malah seneng-seneng aja?"). Tapi Masya Allah-nya nih ya, ternyata mereka nggak menghilangkan nilai-nilai islam itu sama sekali. 

Perlu bukti? Di keluarga Iran, anak gadis yang perempuan dilarang keluar pergi main kalau nggak sama ayah atau saudaranya. Di keluarga Afghanistan, ketika syuting acaranya yang berupa kehidupan sehari-hari, si anak perempuan minta ga usah direkam pas dia membuka hijabnya (kayaknya kameramen dan staffnya pun cewek, soalnya cuma terdengar suara cewek). Salat, mereka rajin. Puasa apalagi, mesti tahan walaupun beraktivitas di tengah-tengah orang yang umumnya nggak menjalankan puasa.

Dari sini, kita yang di Indonesia gimana? Alhamdulillah, negaranya aman dan damai. Nggak ada gangguan yang membahayakan buat ibadah. Nggak perlu pindah ke tempat lain untuk menghindari ancaman perang. Nggak perlu mempelajari bahasa asing begitu ketat supaya bisa bergaul dan bersekolah. Jadi, nikmat mana lagi yang kita dustakan? Nggak mesti hidup susah berlumur tangis dan darah baru bergerak buat rajin ibadah, belajar, dan bekerja kan? Ingat, keadaan Indonesia belum separah negara lain yang saat ini hidupnya kurang tenang. Indonesia nggak se-"cacimakiable" yang kita pikir selama ini.

Kedua, hidup di tempat yang kita pikir enak, belum tentu enak sebelum kita benar-benar hidup dan menetap di sana. Contohnya aku sendiri yang mengira, hidup di Korea lebih enak dari Indonesia. Lebih menyenangkan di sana dari pada di sini. Analoginya, rumput tetangga lebih hijau 😂. 

Allah tau mana yang baik buat kita, dimana yang kita pikir itu buruk belum tentu buruk, yang kita pikir baik belum tentu baik.

Aku nggak mempermasalahkan keinginan buat berkunjung ke negara lain atau mau tinggal di negara manapun, asal untuk saat ini jangan menyimpulkan bahwa 'negara saya adalah negara yang paling terbelakang daripada negara lain, hidup negara saya lebih merana dari kehidupan negara lain.' Nggak semua kita yang udah mengunjungi Indonesia ini dari Sabang sampai Merauke. Ada beribu bahkan mungkin ratusan ribu, rahasia keindahan negara ini yang belum kita tau. Dan lagi, tak semua orang mampu menerima kita secara tulus melebihi penerimaan yang kita terima di 'rumah kita sendiri'.

Pada akhirnya, aku ingin menyimpulkan, bahwa jangan pernah merasa menyesal lahir di negara Indonesia, jangan pernah berpikir "Kenapa saya tidak lahir di negara A, B, C atau D saja?" Qadarullah yang menitipkan buat kita brojol di Indonesia ini adalah yang terbaik. Serta kemanapun kita berada, ke negara mana pun kita pergi jangan lupa untuk membawa nilai-nilai dan moral yang sudah diajarkan oleh agama dan budaya daerah di negara kita yang umumnya mengajarkan bagaimana bersikap, berucap, dan bertatakrama

Terima kasih sudah membaca sampai kalimat terakhir ini. Mohon maaf jika ada kesalahan. :)
Happy fasting guys :D - Afzhi

Minggu, 20 Agustus 2017

Surat Kaleng tanpa Judul (Padamu, Anak dari Setiap Ayah dan Ibu)


Ini seperti surat kaleng. Bukan kulemparkan ke lautan, melainkan melewati jaringan yang penuh kecanggihan. Semoga tersampaikan pada siapapun, entah kukenal maupun tidak, terutama pada diri ini sendiri yang sampai saat ini tak kuketahui rupanya yang nyata dan keinginan hatinya seperti apa. 
Semoga kita selalu diberikan petunjuk yang lurus oleh Yang Maha Kuasa. Aamiin Ya Rabb.

Kemeriahan perayaan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke-72 tahun masih terasa walaupun sudah beberapa hari berlalu. Selamat wahai negaraku, sudah lebih dari setengah abad dirimu tak lagi bertekuk lutut pada kezaliman. Sayangnya, selamat yang kuucapkan tak secara nyata dapat menyatakan bahwa dirimu tengah berada dalam kondisi yang selamat. Kali ini, bukan berbicara mengenai keselamatan makro seperti keadaan negara, politik, perekonomian, ataupun keadaan Internasional. Berbicara mengenai hal tersebut tak akan ada habisnya, semakin dibahas maka semakin banyak masalah yang harus diselesaikan.

Mari sejenak kita berbicara dalam unit mikro – agen yang harus diselamatkan paling pertama – yang merupakan salah satu pemain pengisi kemerdekaan. Siapa? Tentang DIRI SAYA. “Saya” siapakah yang dimaksud? Coba engkau sebutkan kata “SAYA”, maka itulah dia tujuannya. Jika aku yang menulis tulisan ini menyebutkannya, maka itulah objek “Saya” bagi diriku, begitupun denganmu.

Perkenalkan, saya adalah seorang anak dari kedua orangtua yang kasih sayangnya tak akan pernah mati sampai kapanpun. Ayah dan ibu, begitulah panggilannya secara umum. Jika ditanya apakah saya menyayanginya, saya akan menjawab dengan lantang bahwa saya sangatlah sayang pada keduanya. Jika ditanya rindukah saya kepada ayah dan ibu, jangan ragukan lagi, jawaban saya adalah merindukannya setiap waktu apalagi di saat berpisah. 

Namun, sebenar-benar sayangkah saya? Apakah rindu saya untuk keduanya benar-benar ada? Jawaban di atas adalah jawaban yang dilontarkan oleh mulut saya, bukan oleh sikap dan perilaku. Saya memang menjawabnya diiringi dengan perasaan hati yang sayang dan rindu, namun perbuatan saya tidaklah mencerminkannya. 

Berapa kali sehari saya mendoakan keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat keduanya? Hanya saya dan Allah-lah yang tahu. Ini untuk mengingatkan diri saya, bahwa kasih sayang bukan saja yang diperlihatkan, namun juga yang disimpan dalam kerahasiaan.

Berapa kali perjumpaan yang saya lakukan dengan orangtua dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, atau pun satu tahun? Dalam setiap perjumpaan, berapa kali saya mengabaikan kebersamaan bersama keduanya hanya karena gadget yang saya miliki? Di saat pulang ke rumah, berapa kali saya bertengkar, merasa kesal, mengeluh, ataupun berbicara dengan nada yang tinggi kepada ayah dan ibu? Jika saya ditanya, saya akan menjawab bahwa saya rindu, namun ketika bertemu, saya malah jarang berinteraksi dengan orangtua saya, membalas pesan di handphone pintar lebih menarik daripada bercengkerama dengan ayah dan ibu. Saya menjawab bahwa saya rindu, tapi adapun ketika berbicara, saya sering kesal dengan orangtua yang menyuruh ini dan itu, menyalahkan apa yang saya lakukan, menasihati perangai saya. Saya merasa tak suka diberitahu, karena saya pikir saya sudah besar, saya sudah merantau jauh, pemikiran saya juga sudah tinggi, sehingga saya tak mau lagi dimarahi orangtua. Untuk menghentikan segala bentuk kecerewetan ayah dan ibu, saya tinggal meninggikan suara dengan nada yang menjengkelkan, sehingga ayah dan ibu berhenti dan tak mau lagi berkata apa-apa.

Jadi, di mana letak sayang dan rindu saya pada kedua orangtua?

Saya adalah orang yang berprestasi, baik di lingkungan kelas secara akademis, maupun lingkungan organisasi dan ekstrakulikuler di kampus. Debat dan orasi sudah sering saya lakoni. Saya sudah merasa hebat, saya pikir orangtua saya akan bangga dengan semua ini. Kuliah saya sudah di kampus bergengsi, sudah dipuji oleh tetangga kanan dan kiri, seharusnya orangtua saya sudah senang dengan semua ini. Negara ini harusnya bersyukur memiliki saya sebagai warga negara. Tapi ternyata, 
saya SALAH BESAR. 

Kebanggaan utama orangtua saya tidak mengacu pada prestasi, namun pada sopan santun dan lemah lembut pada keduanya yang menjadi prioritas. Menghormati dan menyayangi keduanya, itulah yang membuat hatinya tenang. Negara ini, tak hanya butuh orang-orang pintar, namun juga orang shaleh / shalehah yang bertakwa kepada Yang Maha Pencipta, berbakti kepada kedua orangtua, dan bukan orang yang sombong lagi jumawa.

Kesadaran yang perlu saya tanamkan, bahwa saya belumlah menjadi orang yang hebat. Belum ada yang bisa saya banggakan. Sebanyak apapaun matakuliah yang saya ambil, selama apapun saya berada di kampus, sejauh apapun negeri yang telah saya tempuh, namun saya masihlah makhluk yang kerdil. Tak pantas bersikap sombong pada orangtua, walaupun keduanya terkadang membuat hati saya kesal. Sebenarnya juga tak pantas saya merasa kesal pada ayah dan ibu, sedangkan yang menjadi penyebab kekesalan itu adalah hal kebaikan yang dimaksudkan oleh ayah dan ibu.

Wahai diri yang kusebut dengan “saya”, semoga isi surat kaleng ini tidak membingungkan. Semoga yang kumaksud bisa tersampaikan pada “saya”. Wahai saya, cepatlah berubah, jangan biarkan orangtua saya tersiksa dengan apa yang saya perbuat. Saya adalah seorang anak dari orangtua yang harus saya bahagiakan dunia dan akhirat, lillahita’ala.

Surat kaleng tanpa kaleng,
Rahmi Afzhi Wefielananda
20/08/2017

*sumber gambar : google