Selasa, 26 Agustus 2014

Sedikit Coretan untuk Renungan

Saya tidak tahu. Apa yang terjadi dengan kehidupan saya akhir-akhir ini. Namun, saya mulai mempelajari hal baru, hal yang memang saya tunggu-tunggu selama ini. Hal baru yang membuat saya mendapatkan sebuah hal yang baru bahwa untuk menempuh sebuah keadaan yang baru tidaklah semudah yang kita pikirkan. Begini, mungkin terlalu berbelit-belit. Saya akan mencoba memberikan penjelasan.

Sebagai seorang manusia, kita tentu pernah merasakan bosan, bukan? Bosan dengan apa yang telah rutin kita lakukan, bosan dengan berbagai hal yang kita temui setiap hari, bosan dengan pemandangan yang hanya itu-itu saja yang bisa kita lihat. Kemudian, timbullah sebuah keinginan untuk mendapatkan hal yang baru. Dari sinilah saya mulai belajar. Belajar bahwa keinginan yang selalu berkelabat dalam pikiran kita bukanlah hanya sekedar angan. Keinginan berarti sesuatu yang suatu saat akan dicapai. Saat keinginan (menemukan hal baru) itu telah tercapai, kesenangan yang terbentuk di dalam hati hanya bersifat sementara. Karena hal baru yang kita dapatkan, ternyata juga harus dijalani dengan jalan yang tidak mudah. Harus ada sebuah pengenalan hingga adaptasi yang harus dijalani. Banyak kerikil-kerikil hingga batu besar yang menghadang. 

Di saat hal baru telah kita temui (apalagi telah terkendala dengan sebuah problema), kita akan kembali meflashback memori kita kepada hal masa lalu yang pernah kita lalui. Terkadang kita merasa rindu dengan hal lama (yang sempat pernah kita ingin tinggalkan) dan malah ingin kembali ke masa itu. Kenapa bis terjadi? Karena kita terlalu canggung dengan hal baru yang kita dapatkan. Kita terlalu lemah untuk mulai memasukkan diri ke dalam keadaan baru yang kita dapatkan. 

Saya berpikir, mungkin ini adalah sebuah teguran. Karena di saat kita melalui sebuah orde kehidupan, kita sering lupa dan tidak bersyukur. Kita selalu menginginkan hal yang lebih (bisa juga hal yang baru).  Kita sering lupa untuk menikmati hal yang sedang kita jalani, sehingga saat kita sudah meninggalkannya kita merasa ingin kembali ke masa yang sempat tidak kita nikmati tersebut.

Saya hanya ingin berpesan, bukan hanya untuk pembaca. Tepatnya kepada diri saya sendiri. Jalanilah hal yang kamu dapat hari ini. Apapun yang terjadi, nikmatilah. Lalui skenario Tuhan dengan caramu yang menyenangkan (tapi jangan lupa lalui dengan cara yang diridhoi Tuhan). Karena yakinlah, hal baru yang kamu dapat hari ini, akan menjadi hal lama yang akan kamu kenang dan kamu rundukan dimasa yang akan datang.. ^_^

Kamis, 31 Juli 2014

Jawaban Kemenangan (Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku)

Dodi menepuk-nepuk dada. Bangga dengan hal yang didapatnya.
“Kamu baru tau siapa aku. Harusnya dari dulu kamu sudah tahu!”
“Jangan sombong, Dod. Baru satu kali kamu menjadi pemenang dalam kompetisi ini!”
“Menyanyi sudah keahlianku, kamu sudah kalah jauh dariku, Kintan!”
“Jangan seperti itu, teman-teman,” Furi menengahi.
Dodi kembali mendengus. Dia tak mau menghiraukan kata-kata Furi. Dia sudah terlalu melayang setelah dipuji juri.
“Itu juga baru awal. Bukan akhir. Toh juga belum pengumuman,” nada kintan tampak seperti mengejek.
Furi hanya diam. Dia jauh tertinggal dari keduanya.
“Dodi!” Suara MC menggema dari atas panggung. Dodi berlari naik ke atasnya. Kemenangan di tangannya.
“Kintan!” Lanjut MC
“Selanjutnya, Furi!” Suara MC lebih keras dan menggema.
“Itulah juara kita dari peringkat tiga sampai satu,” MC mengakhiri acara.

Furi terdiam sambil berpikir. Sesaat tersirat sebuah senyum di bibirnya.

Cahaya Bintang Lika (Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku)


Dika seolah-olah terkaget dengan kedatangan Lika.
“Kenapa tiba-tiba terang? Ada cahaya bintang yang datang kah? Padahal sebentar ini aku masih tidak bisa melihat apa-apa di luar sini.”
“Kamu jangan sok memuji seperti itu, Dika. Aku salah tingkah jadinya.”
“Haha, aku hanya bergurau, Lika. Jarang-jarang ada orang sepertiku memujimu,” Dika tergelak.
Lika tersipu malu. Dia jarang menerima pujian, bahkan lebih sering cemoohan. Lika juga tergelak dibuatnya. Masih ada laki-laki yang memujinya.
“Kamu memang baik. Masih menerimaku berada di sampingmu. Walau aku tak sempurna,” Lika berkata lembut.

“Tentu. Karena aku tak akan memiliki saudara sepertimu. Kita terlalu mirip dan jarak kita bisa dihitung. Aku sayang padamu, Lika. Ayo kita masuk!” Dika mendorong kursi roda yang diduduki Lika.

Kamis, 19 Juni 2014

Masalah?? Plis deh, GUE bukan ROBOTnya LOE!!

Masalah..

Siapa sih yang tidak kenal sama dia?? Udah bikin repot, pusing, susah tidur, kurang istirahat, pokoknya 100% nyebelin dan bikin ill feel  deh. 
Kenapa enggak coba? Udah datang nggak dijemput, pas mau dianterin pulang, eh dianya malah nggak mau. Dipaksa buat pergi sendiri apalagi. Boro-boro dia mau pergi, yang ada dia bakalan nangkring di pundak kita dan terus beranak-pinak dari hari ke hari.

Gue udah coba buat bikin dia nggak datang ke gue, tapi emang dasar Masalah itu nggak tau sopan santun, dia datang sendiri aja ke dalam kehidupan gue yang indah ini.. -_-

Ya udah, loe hadapin aja dia. Loe takut? Atau nggak sanggup? Emang dia siapa? Bukan siapa-siapa loe kan? Terus ngapain loe pake acara nggak berani buat lawan dia. Keluarkan kehebatan loe. Karena loe harus tau, kita itu makhluk yang diberikan Sang Maha Pencipta akal pikiran. Kenapa buat mengatasi hal seperti ini aja kita nggak bisa? Loe mau tau caranya? Caranya, ya nggak usah ngeladenin dia deh. Nanti dia bakalan bosen sendiri deh.

Terus gue harus gimana buat nggak ngeladenin dia? Loe kalau ngasih solusi yang bener dong..

Nggak ngeladenin maksud gue itu, loe coba nggak memperberat Masalah itu sendiri. Loe coba buat tenangin dulu diri loe. Lupakan sejenak masalah yang loe miliki. Biarkan dia buat sementara waktu melayang dulu ke atas langit dan nggak mergantung di pundak loe. Loe coba buat merefresh pikiran loe buat sejenak. Misalnya dengan loe tidur, melakukan hal yang loe suka, liat pemandangan sekitar, sholat, deelel. Loe harus tau, orang yang lagi kalut, bakalan nggak bisa berpikir secara jernih. Makanya dia akan selalu merasa kalau masalah yang datang buat dia adalah bala bencana. So, intinya nggak ngeladenin = tenangkan pikiran loe buat sejenak.

Kalau gue udah tenang, gue harus ngapain?

Baru deh loe mulai buat hadapin dia. Dengan energi yang udah elo kumpulin pas pikiran loe lagi tenang, cara kerja berpikir loe tentu lebih baik. Pikirkan baik-baik inti masalah loe. Jangan mikir kemana-mana dulu. Intinya, cari pokok permasalahannya terlebih dahulu, baru deh Insya Allah loe bakalan ngerti apa yang seharusnya loe selesain.

OK, gue tau, kalau gue udah ngerti dengan masalah gue, gue baru bisa menyelesaikannya. Tapi apa yang harus gue lakukan? Secara,kan gue adalah anak remaja yang masih labil.  Bisa aja kan, gue menghasilkan sebuah penyelesaian yang bukan seharusnya?

Loe bikin rencana A, B, C, dan kalau perlu sampai Z. Gue yakin loe udah bisa memikirkan apakah hal itu baik, atau bukan.Gue yakin deh, loe bakalan tau kalau misalnya loe menyelesaikan masalah dengan menyakiti orang lain, itu adalah hal yang tidak seharusnya. Dan gue yakin, kalau loe berpikir dengan jernih, menyelesaikan masalah dengan hal yang lebih damai bakalan bikin lebih mempermudah masalah itu cepat pergi. Siapa sih yang di dunia ini yang nggak suka damai? Sejahat apapun orang, Insya Allah di dalam hatinya sebenarnya dia membutuhkan ketenangan dan kedamaian.Kesimpulannya, masalah itu adalah api. Dan elo harus jadi airnya. Cari titik api yang sebenarnya. Dan siram tepat di sana. Jangan sekali-sekali loe menjadi bensin yang bakal bikin si api makin panas dan siap buat menyambar loe. Dan INGAT,, mintalah bantuan kepada Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu.. OKAY??

Segitu dulu yang bisa gue tulis di sini. Intinya, jadilah lebih dewasa dalam menjalani hidup. Jangan sekedar pasrah dengan apa yang ada. Kalau loe masi ngerasa belum puas, silahkan komentar saja. Maaf kalau ada kesalahan baik dalam penulisan ataupun dari segi kata-kata.
Terimakasih udah mau luangin waktu buat baca tulisan yang singkat ini. Semoga bermanfaat..



Selasa, 17 Juni 2014

Mau Ujian Nasional? What Should I do??

Baru selesai dari segala macam ujian, akhirnya aku punya waktu juga buat nulis di blog lagi. Sebenarnya kalau mau nulis tema ini sekarang, udah basi sih. Tapi bisa berguna buat yang bakalan ikut UN tahun depan, yuk simak aja..

Ujian?? Ngapain harus ujian sih? Males tau! Harus belajar, nggak bisa main, nggak bisa hang out, nggak bisa nonton, dan nggak bisa segala-galanya. Apalagi Ujian Nasional. Hello?! Pelajaran tiga tahun mau diuji. Pelajaran sebulan lalu aja udah lupa. Apalagi setahun dua tahun yang lalu. Bisa mumet nih kepala. OK, sekarang aku mau kasih resep nih gimana cara menghadapi Ujian Nasional (jeng jeng jeng.... *bunyi tabuh drum)

Ini nih, sekedar tips dari aku. Aku dapat ini dari pengalaman aku selama menghadapi UN SD, SMP, dan SMA (nggak salah kalau orang bilang pengalaman itu adalah pelajaran yang paling berharga).. Penasaran?? Udah nggak sabar?? Atau udah mulai bosan baca tulisan ini?? .. Baiklah, buat kamu yang mau ngelanjutin baca, monggo silahkan. Buat yang udah bosen, ayo semangat!! Terusin dulu bacanya. Semoga bisa jadi motivasi buat lebih semangat belajar.. (aku maksa banget ya?!) Hehehe










1. Ikhlas

Kalau sekedar dibaca doang, ikhlas itu gampang kok. Tinggal urut-urut dada terus bilang , "Iya, gue ikhlas.. Ikhlaaaaaasss banget." Tapi setelah itu langsung lempar bantal, lempar buku, lempar apa aja (sampai-sampai kamar sendiri juga dilempar) sambil nyerocos nggak penting dan menyalahkan pemerintah segala. Hei! Ikhlas itu bukan cuma di mulut. Tapi juga di sini *nunjuk hati,,, cielah udah kaya jatuh cinta aja. Coba deh pikirin, kan untung masih ada moment yang buat kita mengulang apa yang pernah kita pelajari. Sayang dong, udah tiga tahun belajar cuman buat dilupain gitu aja. Itu namanya buang umur, buang duit, buang waktu *asal jangan buang angin aja deh  :)
Coba deh,, kamu pikir dengan hati kecil kamu (hati kecil itu nggak pernah bo'ong lho).., "Apa sih guna gue ngegerutu? Gimana kalau nggak ada ujian?? Apakah gue akan ngelupain dengan semuanya? Kapan lagi gue ningkatin ibadah gue? (BTW, belajar itu juga ibadah), dan bla bla bla." Pokoknya pikirin baik-baik deh. Gunakan hati kecil kamu. Jangan main perasaan dan emosi doang. Kalau kamu benar-benar melakukannya, lambat laun ikhlas itu akan datang kok. Udah paham??

2. Belajar sedini mungkin

Apai? Maksud loe temen sekelas gue?lagi nih? Din Yaelah sabar dulu bro, sist. Maksud aku itu, mulai lah belajar dari sekarang. Apalagi buat kamu yang baru naik kelas 6,9, dan 12. Mulailah belajar awal semester nanti.. Ya ampun!! Serius loe? Baru masuk awal ajaran, udah belajar aja. Basi loe ah. Seminggu sebelum ujian aja belajarnya kelesss
Sabar dulu dong. Belajarnya santai aja kok. Nggak usah kasak-kusuk juga. Justru ini lebih baik. Lebih awal, maka belajarnya lebih santai deh. Kalau aku boleh kasih tips, mulai aja belajar dengan membahas soal-soal UN tahun lalu. Pelajari aja soal-soal yang udah kamu pelajari 2 tahun sebelum ini. Untuk pelajaran kelas 6, 9 atau 12, nanti aja. Kan belum dipelajari. Tapi kalau mau belajar yang kelas 6, 9, atau 12, ya silahkan juga. Nggak ada larangan kok sebenarnya :) Itukan cuma saran dari aku. Saran aku lagi nih, cari soal yang udah ada pembahasannya, biar kalau kepentok, bisa dapat solusi.. Gitu :D
Oh ya, saran aku satu lagi, kalau masih nggak ngerti juga, jangan biarkan diri kamu tejerumus dalam jurang ketidak mengertian. Tanya aja sama guru, atau buatlah kelompok belajar.. Sip?? Yang terpenting AWAL AJARAN BESOK UDAH MULAI MENGANGSUR BELAJAR deh.. Itu aja..

3. Mohonlah kepada Yang Maha Kuasa

Udah tau kan, kalau kita nggak bakalan mungkin bisa melakukan sesuatu tanpa-Nya?? OK, Kalau udah tau, tentu kamu tau juga apa yang harus kamu lakukan. Mintalah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar kamu selau dimudahkan dalam memahami pelajaran. Terus, kapan mintanya? Mintalah setiap saat. Setiap kamu belajar, mohonlah kepada-Nya agar diberi kemudahan. Dan janga lupa, usahakan untuk memperbanyak ibadah juga dan lebih dekatkan diri kepada-Nya ya :) OK?? Sip??

4. Minta Restu Orang Tua

Mohon do'a restu ke Ibu Bapak. Nah lho? Ngapain? Kan yang ujian gue, apa urusannya sama Mami Papi gue? 
Nah! Ini yang perlu dipahami. Kamu harus tau, ya, do'a kedua orang tua itu mustajab lho. Insya Allah Yang Maha Kuasa akan memberikan apa yang diminta oleh orang tua kamu untuk anaknya selagi itu baik. Mintalah restu Ibu Bapak kamu agar kamu ikhlas, selalu semangat, dan diberi kemudahan oleh Yang Maha Pengasih. :)

Sip deh,, segitu dulu yang bisa aku bagi. Semoga bisa bermanfaat buat kamu yang baru naik kelas 6, 9, dan 12. Baca, pahami, pikirkan. Kalau masih belum mengerti dan butuh bantuan, silahkan tanya aja di komentar. Insya Allah bakal aku bantu kasih solusi deh.. Byeeeee.. sampai jumpa ditulisan berikutnya!!

Selasa, 25 Juni 2013

Cerpen,,,, yuhuuuu

Walaupun ngebosenin, baca aja dulu deh,,, ini juga ada di coretanafzhi.blogspot.com

Semut Berkata tentang Pelangi

Heru berlalu meninggalkan kerumunan di hadapannya. Dari pada dia harus menjadi bahan lawakan di sana, lebih baik dia melakukan hobinya. Nungging-nungging menghadap tanah sambil mencari semut. Kalau udah ketemu semutnya, diajak ngomong deh kaya orang kuker alias kurang kerjaan.
“Mut, emang salah gue apa sih? Masalah belajar gue nggak bodo-bodo amat, nilai gue bisa dibilang nggak bermasalah, duit gue juga nggak kere-kere amat, muka gue juga nggak jelek-jelek amat – kalo masalah muka semut pun bakalan nggak percaya kalo mukanya Heru nggak jelek-jelek amat – tapi, kenapa nggak ada satu cewek pun yang hatinya nyantol ke gue? Si Tedi yang terkenal nggak laku-laku sejagat raya aja berhasil nembak Fani kemarin. Masa gue kalah ama si Tedi? Apa kata dunia?” Heru ngomel muncrat-muncrat, bisa bikin rumah semut jadi banjir 10 meter.
“Woy, Ru. Lo ngapain di situ? Nungging-nungging kaya anak kelinci. Ngambek lo? Baru di bilangin gitu aja udah kaya anak cewek. Ntar tambah nggak laku lho?” Joko teman Heru semenjak SD yang sudah mengerti dengan adat-istiadat Heru kalo lagi ngambek menegurnya.
“Udah deh. Lo nggak usah ngomong lagi. Lo belum pernah ngerasain sepatu butut bakar nyenggol jidat jenong lo, kan?” Heru pergi ke luar kelas meninggalkan Joko yang sibuk mengusap-usap jidatnya yang takut ditimpuki sepatunya Heru. Teman-teman dekat alias sahabatnya yang lain hanya mampu geleng-geleng kepala. Mereka tak habis pikir dengan Heru. Padahal mereka ber-5 yang terdiri dari Heru, Joko, Tedi, Riko, dan Gigo udah bikin janji dari zaman prasejarah – lebay amat – nggak bakalan saling iri kalo temannya dapat berkah, termasuk dapat pacar. “Mungkin dia frustasi kali, karena dia orang satu-satunya di kelompok kita yang masih jadi JOGAMUT (jomblo nggak imut),” ujar Gigo. Yang lain hanya bisa mengangkat bahu.
*
            Taman belakang sekolah selalu menjadi tempat pendinginan otaknya dari berbagai masalah yang dihadapi. Masih dengan rutinitas yang sering dilakukannya kalo lagi ngambek, dia nungging-nungging nyari semut. Sebenarnya, kebiasaan nungging-nungging ini cuma diketahui teman-teman dekatnya. Selebihnya, tidak ada yang tahu. Termasuk emaknya. Pernah sekali Joko bertanya, “Ru, ngapain sih lo nungging-nungging kaya kelinci gali sarang gitu?”
“Dari pada gue bikin diary, bikin capek tangan aja. Mending gue langsung ungkapin aja.”
“Ungkapin palalo peyang. Muka ngadap tanah gitu mau ngomong ama siapa?”
“Lo gak tau apa kalo di tanah itu masih ada makhluk hidup? Nah, dia kan juga punya telinga tuh. Tentu dia bisa dengerin gue.”
Up to you deh,” kalo udah nyebutin kata yang satu itu artinya si Joko udah kehabisan stok kata-kata buat ngomong alias nyerah.
Karena udah capek nungging-nungging gak karuan, Heru berhenti. Beranjak menuju kursi-kursi taman. Dan apa yang terjadi? Nggak terjadi apa-apa kok. Si Heru cuma tidur lelap plus ngorok kaya pake speker yang bunyinya kemana-mana.
“Ru, bangun Ru. Ayo bangun. Tidur mulu. Ada preman nih di samping lo!” seseorang, tepatnya seekor semut yang berada di hadapannya membangunkannya.
“Weits enak aja lo. Sok-sok jadi preman lo, ya. Gue keluarin jurus kakeknya dari omnya nenek tante gua baru rasa lo,” Heru berlagak sok gaya. Dilihatnya benda yang berada di hadapannya. Hitam, besar, tingginya kira-kira tiga meter. Semut raksasa! Heru terdiam. Berhenti berlagak.
I’m sorry dah,” lanjut Heru menggigil.
It’s okay. Sebenarnya tadinya gue datang buat ngabulin 3 permintaan lo. Tapi karena lo udah sok berlaga akhirnya nggak jadi. Tapi karena lo udah mau minta maaf, gue kasih lo satu permintaan,” semut raksasa menunjukkan telunjuknya.
“Beneran? Kalo gitu gue pingin punya sesuatu yang indah yang bisa gue tunjukkan ke temen-temen gue, kalo bisa gue punya seorang cewe,” pinta Heru tanpa basa-basi.
Si semut langsung menyerahkan sebuah amplop berwarna putih,”Ini dari seorang peri kenalan gue. Sebenarnya gue emang ke sini buat ngasih ini.”
            “Ah udah. Sekarang lo pergi sana dari dunia gue,” lanjutnya.
            Heru terbangun. Baru dia menyadari dirinya kembali dari mimpi. Amplop mimpi tadi masih digenggamnya. Diliriknya jam tangannya. Pukul 10.45. Heru wajib bergegas ke kelas kalau tak mau disetrap oleh Pak Boko buat berdiri kaya bebek bengong di depan kelas.
*
            Jika kamu mencari cinta, mungkin itu aku. Kalo kamu cinta, tolong lukiskan pelangi untukku. Karena dari pelangi aku datang. Kalo kamu ada masalah langsung tanya ke semut temanku. Amanda. Itulah isi surat yang dibawa oleh semut raksasa.
            “Gue ragu sih sama surat itu. Emang beneran ada bidadari turun dari pelangi gitu?” komentar Riko saat ditunjuki surat itu oleh Heru. Saat ini Heru baru mau bersama dengan Riko. Maklum, Riko orangnya bisa lebih paham masalah orang. Jangankan masalah orang, masalah sapi kepunyaan bapaknya aja dia tau.
            “Tapi kalaupun bener, lo beruntung kok. Sekarang kan November. Bi...bi...biasanya bulan ini musim penghujan,” Riko sedikit terbata saat melihat Heru bersiap membuka sepatunya karena marah.
            “Kabur!”
*
Tiga hari kemudian
            “Kata si Riko, November musim penghujan, kok hujannya gak turun-turun, gue tanya semut aja kali, ya?” Heru gelisah di teras sambil nungging.
“Ya ampun, Ruuuu. Kamu ngapaian nungging-nungging di teras?” Emak teriak histeris liat kelakuan anak semata wayangnya itu. Udah tiga hari ini Heru keliatan aneh di matanya. Tiap pulang sekolah, kerjaannya cuma duduk bengong di teras rumah, dan kalo sore dia nungging-nungging gaje gitu. Emak khawatir Heru kesambet jin pohon nangka di jalanan deket rumah.
“Kamu sehat kan, Ru?” Emak nempelin punggung tangannya ke jidat Heru.
“Sehat, Mak. Heru cuma pingin hujan turun!” jawab Heru lugu sambil terus nungging. Emak menepuk jidatnya. Apa ritual mendatangkan hujan udah berubah ya?
“Soalnya Amanda bakalan datang kalo ada pelangi. Ada pelangi kan setelah hujan, Mak!” kata Heru. Emak tambah puyeng dan hanya bisa diam.
Beberapa saat kemudian, hujan pun turun. Heru berguling-guling girang di tanah depan rumahnya. Tubuhnya udah kaya tikus nggak mandi-mandi 3000 tahun. Pelangi itu datang. Namun, Amanda tak jua tiba. Eh, malah yang datang empat tikus lain tapi kali ini kayanya habis mandi soalnya udah basah kuyup. Siapa lagi kalo bukan empat sohib gajenya Heru.
“Mana cewenya, Ru. Kata si Riko, lo bakalan dapat bidadari kalo ada pelangi,” sorak Tedi.
“Belom nih. Kayanya bentar lagi. Eh, ngapain lo semua ke sini?” tanya Heru.
“Mau liat cewe lo,” serentak semuanya menjawab.
“Aw!” Tiba-tiba Heru mengaduh. Dilihatnya kakinya yang merah bin bengkak digigit semut merah. Namun bukan itu saja yang membuatnya kaget. Ada kertas bertulisan di samping kakinya. Isinya : Sekarang kamu telah menemukan keindahan. Amanda. Akan bersama dan damai selamanya. Sekarang Amanda ada di sampingmu.Heru melihat sahabat di sampingnya. Sahabat itu keindahan selamanya. Dan masalah cewe juga bakalan ada nantinya.

coretan yang kedua

ini nih, tulisan aku yang lain i coretanafzhi.blogspot.com... baca ya... Check this out:

CORETAN 2

Hidup itu kadang tak kita mengerti

Ada yang bilang, hidup itu.....

Ada di atas ada di bawah

Ada yang baik ada yang buruk

Ada yang putih ada yang hitam

Tapi bukan itu yang dimaksud kebanyakan orang

mereka sadar dengan roda hidup saat mereka di bawah

Saat mereka tak berkekuasaan dan berkehormatan

Tak di dengar lagi

dan merasa

Hilang